Leher Korban Tertembus Peluru


Leher Korban Tertembus Peluru

Seorang ibu di Dusun Recoputul, Desa Gayam, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, harus meregang nyawa.

Lehernya tertembus peluru dari senapan angin yang ditembakkan oleh bocah yang usianya belum genap lima tahun atau balita.

Ibu bernama Siti Sa'diyah, 35, itu kini masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit (RS) Rahma Medika, Kota Kediri, akibat pembuluh darah lehernya tertembus peluru gotri besi senapan angin yang dibuat mainan Nani Cahya Pratiwi, anak tetangganya.

Menurut keterangan dr Arifatul dari RS Rahma Medika, proyektil peluru yang bersarang 5 cm di dalam leher korban masih belum berhasil dikeluarkan.

"Kami masih menunggu kondisi korban benar-benar baik dulu, karena untuk mengeluarkan proyektil peluru dari dalam otot besar leher korban sangat berisiko", kata Arifatul. Menurut Sulastri, 27, saksi mata yang ditemui Surya di lokasi kejadian, peristiwa bermula ketika Nani bersama teman-teman seusianya bermain tembak-tembakan di sebuah pekarangan dekat rumah mereka. Selain Nani, di situ ada Yogi Putra Firdaus yang berusia 3,5 tahun serta Abdul Kalim, 4.

Dengan menggunakan senjata dari batang tebu kering, mereka asyik main tembak-tembakan sambil berteriak.dor…dor…dor. "Mereka sesekali menirukan adegan seperti memukul tapi bukan memukul beneran. Saya terus mendampingi anak saya karena dia masih berusia 3,5 tahun," cerita Sulastri, ibu kandung Yogi.

Permainan itu dimulai sekitar pukul 13.00 WIB. Setelah hampir satu jam, mereka kemudian bertengkar kecil. Nani agak dikucilkan karena dia perempuan. Bahkan, Yogi dan Kalim meninggalkan Nani sendirian. .

Jengkel dengan perlakuan Kalim yang cuma mengajakYogi, Nani lantas mengancamnya. Tentu, ancaman khas anak-anak. "Kamu nanti saya tembak pakai senapan bapakku lo," ujar Nani seperti ditirukan Lastri.

Yang dimaksud Nani adalah senapan angin untuk menembak tikus milik Samsudin, 32, ayahnya. Senapan sepanjang setengah meter itu dibeli Samsudin dengan harga Rp 75.000 dari temannya di Pare.

Ancaman itu ternyata tak main-main. Setelah kembali ke rumah beberapa saat, Nani muncul lagi di pekarangan tempat bermain sambil membawa senapan angin seberat 4 kg itu.

Kata Lastri, Nani membawa senapan itu dengan cara menyeret. Sakiyem, 61, yang menemani Nani bermain tidak tahu kalau cucunya membawa senapan. "Saya baru tahu dia bawa senapan setelah orang ramai-ramai menolong Sa'diyah," kata Sakiyem.

Nani mengacung-acungkan senapan ke arah Yogi dan Kalim.
Sementara dari kejauhan, Sa'diyah berlari mendekati Kalim, anaknya. Perempuan ini berniat mengajak pulang anak laki-lakinya itu untuk mandi sore. Saat itu sudah sekitar pukul 14.30 WIB.
Sambil menyeret senapan itu, Nani masih menodong-nodongkannya, mendekat ke Kalim.

"Mbak Sa'diyah langsung berdiri di depan anaknya. Dia ingin melindungi anaknya dan menasehati Nani untuk tak main senapan dan membawanya pulang. Saya sendiri langsung membawa pergi anak saya," ungkap Lastri.

Tiba-tiba, secara tak disengaja pelatuk senapan tertarik jari kecil Nani. Jes…peluru langsung melesat dan menembus leher sisi kanan Sa`diyah. Ibu dua anak itu langsung lemas, dan pingsan.
Melihat kejadian itu, Lastri yang hendak pergi berteriak minta tolong. Warga pun berdatangan. Hingga kemarin sore, Sa'diyah masih tergeletak di Ruang Mawar I RS Rahma Medika. Rumah sakit belum mampu mengeluarkan peluru.

Kendati lukanya cukup parah, kondisi Sa'diyah tampak stabil. Ia masih bisa menjawab pertanyaan wartawan meski dengan suara lirih.

"Saat ditembak dari jarak kira-kira 3 meter, tangan saya langsung tidak bisa digerakkan. Saya lihat baju saya dipenuhi darah. Tapi saya tidak akan menuntut apa-apa karena ini cobaan," tutur Sa`diyah.
Saat ditemui di rumahnya di Dusun Recoputul, Nani tampak diselimuti ketakutan. Namun, balita perempuan ini memang sosok pemberani. Sorot matanya menatap wartawan yang datang. Bocah ini langsung jongkok di lantai tanah sambil meletakkan badannya di meja.

Samsudin meminta agar anak keduanya ini jangan sampai diapa-apakan. Setelah kejadian itu, senapan angin miliknya juga langsung dipatahkan. Saat ini, senapan itu diamankan ke Polsek Gurah.

Samsudin menginginkan persoalan tersebut diselesaikan secara kekeluargaan melalui musyawarah yang melibatkan aparat desa setempat. "Kalau soal biaya pengobatan, saya akan berusaha semampunya membantu," kata Samsudin yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tebang tebu itu.

Samsudin masih sulit percaya bagaimana anaknya yang berusia 5 tahun itu bisa mengambil senapan di lemari di kamar tidurnya. "Kemungkinan senapan itu ditarik. Dia juga tak menentengnya tapi diseret," kata Samsudin.

Sementara itu Imam Baidlowi, suami korban, tak bisa menahan emosinya atas insiden itu. Ia menuding Samsudin dan istrinya Susiati, 26, tak bisa mengawasi Nani anak mereka.
Ia mengancam akan menempuh jalur hukum jika Samsudin tidak menanggung seluruh biaya pengobatan Sa'diyah sampai benar-benar sembuh.  surya online